Pernah nggak sih, dalam satu hari lo liat konten tentang underconsumption core yang ngajak lo pake baju sampe bolong, tapi di waktu yang sama liat berita Jakarta Fair yang target transaksinya Rp8 triliun? Kaya lagi hidup di dua dunia yang bertabrakan gitu ya.
Gue juga ngerasa gitu. Tapi makin gue pikirin, makin gue sadar: Jakarta Fair dan Underconsumption Core itu bukan dua hal yang saling memusuhi. Mereka justru dua sisi dari koin yang sama. Dua respon berbeda dari generasi kita terhadap satu masalah yang sama.
Underconsumption Core: Berontak dengan Cara Nggak Beli
Jadi gini ceritanya. Underconsumption core ini tren yang mulai populer di TikTok sejak 2024 . Intinya? Pake barang sampe abis. Baju dipake sampe lusuh, skincare dipake sampe botolnya kering, barang rusak diperbaiki bukan diganti . Kelihatannya sederhana, tapi ini sebenernya bentuk pemberontakan.
Kita udah bertahun-tahun dijejali sama konten haul, rekomendasi produk viral, dan tuntutan buat selalu punya barang baru . Media sosial bikin kita ngerasa kalo identitas kita ditentukan sama apa yang kita punya . Tapi lama-lama? Capek.
Isaias Hernandez, peneliti lingkungan, bilang kebiasaan pake barang bekas sebenernya bukan hal baru—tapi sekarang kembali populer karena anak muda mulai sadar dampak konsumsi berlebihan ke lingkungan . Belum lagi faktor ekonomi. Biaya hidup yang makin tinggi bikin Gen Z lebih selektif ngatur pengeluaran .
Yang bikin tren ini beda sama minimalis? Minimalis sering dikaitkan sama estetika tertentu—rumah kosong, warna netral, semuanya instagramable. Underconsumption core lebih fokus ke fungsi . Nggak ada tuntutan visual. Lo cuma diajak pake barang secara bijak.
Kara Perez, influencer dan pendidik keuangan, ngejelasin ini dengan pas: “When every moment of your life feels like you’re being sold something and the price of said item keeps going up, people will burn out on spending money” . Dan survei Bank of America 2024 nunjukin, lebih dari setengah Gen Z ngaku biaya hidup tinggi adalah penghalang terbesar buat kesuksesan finansial mereka .
Jadi underconsumption core itu sebenernya teriakan: “Kita udah cukup. Kita nggak mau dijeblosin ke dalam lubang konsumsi terus-terusan.”
Jakarta Fair: Pesta Belanja Rp8 Triliun yang Nggak Bisa Dipungkiri
Sekarang kita liat sisi lain: Jakarta Fair Kemayoran 2026. Event yang digelar 11 Juni sampai 12 Juli ini targetnya Rp8 triliun transaksi dan 6 juta pengunjung . Tahun lalu aja udah tembus Rp7,3 triliun dengan 5,9 juta orang .
Bayangin skala-nya. 2.800 perusahaan ambil bagian, dengan 1.800 stan . Ada 150 band manggung selama 32 hari . Dari otomotif, elektronik, furnitur, fesyen, kuliner, sampe kosmetik—semua ada .
Ini bukan cuma pameran. Ini adalah mesin ekonomi. Gubernur DKI Pramono Anung bahkan udah berharap tahun depan bisa Rp9 triliun . Dan yang menarik, 45% peserta adalah UMKM . Pertamina bahkan ngajak puluhan UMKM binaan lewat program Bright Store . Jadi ada aspek pemberdayaan ekonomi lokal juga di sini.
Jakarta Fair adalah bukti kalo budaya belanja masih kuat. Masyarakat masih rela ngantre, masih rela keluar duit, masih pengen beli barang baru. Dan angka Rp8 triliun itu bukan angka kecil.
Kenapa Dua Hal Ini Justru Satu Gerakan?
Nah, ini yang bikin gue mikir. Di satu sisi ada underconsumption core yang ngajak kita berhenti beli. Di sisi lain ada Jakarta Fair yang ngajak kita beli sebanyak-banyaknya. Tapi kalo lo liat lebih dalem, keduanya lahir dari kesadaran yang sama: kita sadar kalo konsumsi itu punya kuasa besar dalam hidup kita.
Respon yang Berbeda, Akar yang Sama
Underconsumption core adalah bentuk perlawanan. Kita nolak narasi “beli terus” dengan cara nggak beli sama sekali—atau setidaknya beli lebih sedikit . Ini adalah “de-influencing” dalam skala budaya .
Jakarta Fair adalah bentuk partisipasi. Kita ikut main di sistem yang ada, tapi kita juga sadar kalo ini adalah ruang ekonomi yang penting. UMKM dapat panggung. Pengusaha dapat pasar. Pemerintah dapat pajak.
Keduanya adalah cara generasi kita navigasi dunia yang terus menjual sesuatu ke kita. Kita nggak naif—kita tau kalo konsumsi nggak akan pernah hilang. Tapi kita juga nggak mau jadi korban budak konsumsi . Makanya kita cari keseimbangan.
Dua Sisi Koin yang Sama
Bayangin koin: satu sisi underconsumption core, satu sisi Jakarta Fair. Koin itu adalah kesadaran konsumsi.
Underconsumption core ngajarin kita buat bertanya: “Apa aku beneran butuh ini?” Itu pertanyaan kritis yang bikin kita mikir dua kali sebelum beli.
Jakarta Fair ngajarin kita: “Kalo pun beli, beli dari UMKM lokal. Dukung ekonomi kreatif. Dapatkan nilai terbaik.” Itu adalah konsumsi yang lebih sadar dan terarah.
Keduanya menolak konsumsi impulsif yang didorong oleh algoritma dan FOMO. Underconsumption core menolak dengan cara abstain. Jakarta Fair—dengan ribuan stan dan promo—sebenernya juga menawarkan alternatif: beli dengan tujuan, bukan karena tren .
Tips Buat Lo yang Mau Navigasi Dua Dunia Ini
1. Beli dengan Tujuan, Bukan karena Tren
Kalo lo ke Jakarta Fair, jangan dateng tanpa rencana. Cari tau produk apa yang lo butuhin. Bandingin harga. Jangan terjebak diskon yang ujung-ujungnya bikin lo beli barang nggak perlu .
2. Dukung UMKM Lokal
45% stan di Jakarta Fair adalah UMKM . Ini kesempatan lo buat dapetin produk lokal berkualitas. Plus, lo ikut ngedorong ekonomi kreatif Indonesia. Di luar Jakarta Fair, cari produk lokal yang tahan lama, bukan fast fashion yang cepet rusak .
3. Terapkan “Underconsumption” di Tengah Godaan Belanja
Gaya hidup underconsumption core bisa lo bawa ke mana aja, termasuk Jakarta Fair. Tanya ke diri lo: “Apa barang ini bakal aku pake 5 tahun lagi?” Kalo jawabannya ragu-ragu, mending lewatin aja .
4. Perbaiki Dulu, Beli Kalo Udah Rusak
Salah satu prinsip underconsumption core adalah memperbaiki barang sebelum beli baru . Ini bukan cuma hemat, tapi juga mengurangi limbah. Jakarta Fair juga punya stan-stan yang jual aksesoris atau sparepart—manfaatin buat perbaiki barang lo daripada beli baru.
5. Jangan Kapok Belanja, Tapi Belanja Cerdas
Underconsumption bukan berarti lo nggak boleh belanja sama sekali. Ini tentang belanja cerdas . Prioritaskan kualitas daripada kuantitas. Beli yang tahan lama. Beli yang bermanfaat. Beli yang mendukung ekonomi lokal.
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Menganggap Underconsumption = Pelit
Underconsumption core adalah pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Kalo lo nggak beli barang karena nggak punya duit, itu kondisi. Kalo lo milih nggak beli karena sadar nggak perlu, itu pilihan . Bedanya halus tapi penting.
2. Nganggap Jakarta Fair Cuma Buat Orang Kaya
Target Rp8 triliun emang gede, tapi 45% stan adalah UMKM . Banyak produk terjangkau dari pengusaha kecil. Jakarta Fair bukan cuma buat yang punya uang banyak—ini ruang buat semua orang.
3. Menjadi Konsumtif di Jakarta Fair, Lalu Underconsumption di Rumah
Ini ironi. Lo bisa aja belanja banyak di Jakarta Fair, terus pulang-pulang gaya underconsumption. Tapi itu cuma pencitraan. Konsistensi itu penting. Kalo lo pengen hidup lebih sadar, terapkan di mana aja—termasuk pas lagi di pesta belanja terbesar se-Asia Tenggara.
Intinya: Konsumsi Itu Kuasa, dan Kita Punya Kuasa Atasnya
Jadi, underconsumption core dan Jakarta Fair bukanlah dua hal yang bertentangan. Mereka adalah dua strategi dari generasi yang sama—generasi yang sadar kalo konsumsi bukan cuma soal memenuhi kebutuhan, tapi juga soal identitas, ekonomi, dan dampak sosial.
Kita bisa milih nggak beli sama sekali. Kita juga bisa milih beli, tapi dengan kesadaran. Yang penting adalah: kita nggak boleh jadi korban. Jangan biarkan algoritma, tren, atau tekanan sosial nentuin apa yang kita beli dan kenapa kita beli.
Di 2026 ini, anak muda lagi berontak—bukan dengan turun ke jalan, tapi dengan pilihan konsumsi mereka. Entah dengan pake baju sampe bolong, atau dengan beli produk UMKM di Jakarta Fair yang paling ramai di Asia Tenggara.
Ini adalah pemberontakan yang sunyi. Tapi dampaknya? Nggak main-main.
